Saturday, January 20, 2018

Rincian Simplisia Andrographidis Herba Herba Sambiloto

Rincian Simplisia Andrographidis Herba Herba Sambiloto



Nama Daerah :

Sumatera : pepaitan (Melayu).
Jawa : ki oray, ki peurat, takilo (Sunda), bidara, sadilata, sambilata, takila.

Pemerian :

Tidak berbau, rasa pahit.

Pemeriksaan Makroskopik :

Batang tidak berambut, tebal 2 mm sampai 6 mm, jelas persegi empat, batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, bentuk lanset samapi bentuk lidah tombak, panjang 2 cm samapi 7 cm, labar 1 cm sampai 3 cm, rapuh, tipis, tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi daun rata. Permukaan atas berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. Tangkai daun pendek. Kelopak bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak, panjang 3 mm sampai 4 mm, berambut. Daun mahkota berwarna putih sampai keunguan. Buah berbentuk jorong, pangkal dan ujung tajam, panjang lebih kurang 2 cm, lebar lebih kurang 4 mm, kadang-kadang pecah secara membujur menjadi 4 keping. Permukaan luar kulit buah berwarna hijau tua sampai hijau kecoklatan, permukaan dalam berwarna putih atau utih kelabu. Biji agak keras, panjang 1,5 mm sampai 3 mm, lebar lebih kurang 2 mm, permukaan luar berwarna coklat muda bertonjol-tonjol. Pada penampang melintang biji terlihat endosperm berwarna kuning kecoklatan, lembaga berwarna putih kekuningan.

Pemeriksaan Mikroskopik :

Daun : epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segi empat, kutikula tipis, pada penampang tangensial tampak berbentuk polygonal, dinding sampai lurus, tidak terdpat stomata. Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel litosis yang berisi sistolit, sistolit banyak mengandung kalsium karbonat. Sel litosis umumnya lebih besar dari pada sel epidermis, bentuk jorong atau bulat telur dengan permukaan bertonjolan hingga mirip rangkaian buah anggur, panjang 60 �m sampai 150 �m, lebar 30 �m sampai 80 �m. Rambut kelenjar banyak, terletak agak tenggelam di lapisan epidermis, sel pangkal kecil dan bersel satu, kepala kelenjar terdiri dari beberapa sel, garis tengah kepala kelenjar 40 �m sampai 65 �m, tinggi 15 �m sampai 25 �m. Rambut penutup sangat sedikit, umumnya terdapat di epidermis atas pada tulang daun, bentuk kerucut berujung tumpul, bersel 2, dinding tipis, berukuran panjang 30 �m sampai 125 �m. Sel epidermis bawah lebih kecil dari sel epidermis atas, pada penampang tangensial tampak dinding samping bergelombang. Stomata sangat banyak, tipe bidiasitik dan diasitik, umumnya bidiasitik. Rambut kelenjar dan litosis lebih banyak terdapat di epidermis bawah dari pada di epidermis atas. Jaringan palisade umumnya terdiri dari 1 lapis sel, jarang yang 2 lapis. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel bungakarang, tersusun renggang dengan rongga udara yang besar, diantara sel bungakarang terdapat juga sel litosis serupa dengan yang terdapat di epidermis. Berkas pembuluh tipe bikolateral.
Batang : epidermis terdiri dari 1 lapis sel yang terentang tangensial, pada penmapang tangensial terlihat berbentuk segi empat panjang, dinding samping lurus, kutikula agak tebal; pada epidermis terdapat rambut kelenjar dan litosis seperti yang terdapat pada epidermis daun. Jaringan kolenkim terdapat dibawah epidermis, terutama pada sudut batang. Parenkim korteks terdiri dari beberapa lapis sel. Serabut perisikel berdinding tebal, agak berlignin, lumen sempit. Floem sekunder sedikit. Sebagian besar xilem sekunder terdiri dari serabut kayu; pembuluh kayu bernoktah dan pembuluh kayu berpenebalan tangga tersebar. Empulur terdiri dari sel besar berbentuk polygonal, dinding bernoktah, sel empulur berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum, panjang hablur 15 �m samapi 50 �m. Kelopak bunga : pada epidermis luar terdapat rambut penutup dan rambut kelenjar. Rambut penutup umumnya terdiri dari 1 sel, kadang-kadang bersel 2, bentuk kerucut, panjang 40 �m samapi 175 �m, dinding tebal, kutikula bergaris-garis. Rambut kelenjar terdapat 2 tipe, tipe pertama serupa dengan rambut kelenjar pada daun tipe kedua mempunyai tangkai kelenjar bersel 3 sampai 5 dan kepala kelenjar berbentuk serupa mangkok bersel banyak. Kulit buah : epidermis luar terdiri dari sel pipih berbentuk polygonal memanjang atau serupa serabut pendek berdinding agak tebal, kutikula tebal bergaris; pada epidermis terdapat stomata serupa stomata pada daun, juga terdapat rambut kelenjar dengan tangkai panjang bersel banyak serupa rambut kelenjar tipa kedua pada kelopak bunga; di bawah epidermis terdapat jaringan berisi zat berwarna coklat kekuningan. Epidermis dalam tediri dari 1 lapis sel pipih, dinding tebal, bernoktah. Mesokrap terutama terdiri dari serabut sklerenkim berdinding tebal, bernoktah dan berlignin. Didaerah sekat mesokrap terdiri dari parenkim bernoktah dan sel batu dengan lumen besar, dinding tebal, noktah jelas, berlignin.
Biji : kulit biji tediri dari 1 lapis sel, pipih berpapila pendek, dinding tipis, kutikula tipis. Endosperm terdiri dari sel berbentuk bulat panjang, dinding tebal tidak berlignin, tidak berwarna, umumnya tersusun radial, sel penuh berisi butir-butir minyak dan aleuron. Embrio selnya lebih kecil dari sel endosperm, dinding tipis, berisi butir-butir minyak.
Serbuk : warna hijau kelabu, rasa sangat pahit. Fragmen pengenal adalah fragmen epidermis atas dan epidermis bawah dengan litosis; fragmen mesofil daun, rambut kelenjar dari kelopak bunga, rambut penutup kelopak bunga, sel batu dari kulit buah, epidermis kulit buah dengan stomata, berkas pembuluh, sistolit yang lepas dari sel, fragmen serabut kulit buah; fragmen endosperm dari biji, fragmen empulur batang, hablur kalsium oksalat berbentuk jarum jarang kelihatan.

Cara Identifikasi :

  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat tua.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P; terjadi warna coklat.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5 % b/v; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan kalium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v; terjadi warna hijau.

Uji Kemurnian :

Kadar abu tidak lebih dari 12 %.
Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 2,2 %.
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 18 %.
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 9,7 %.
Bahan organic asing tidak lebih dari 2 %.

Kegunaan :

Diuretik, antipiretik.

Kandungan Senyawa :

Asam kersik, damar logam alkali.

Referensi :

Materia Medika Indonesia III, hal 20-25, thn 1979, Depkes RI.


visit to link download